
Pilkada Subang sudah memasuki masa kampanye. Dalam waktu dua minggu kampanye yang diberikan, para calon bupati Subang mau tak mau harus siap unjuk gigi dan adu ketenaran untuk meraih dukungan. Harus diakui saat ini, kekuatan masing-masing calon masih agak sulit diprediksi, baik peserta dari kalangan partai maupun independen. Tapi sudah jelas calon yang lama malang melintang dalam politik Subang jelas daya saing lebih kuat.

Eep Hidayat dan Bambang Heryanto adalah dua nama yang tak asing lagi khususnya di kalangan birokrat. Faktor tersebut yang membuat optimisme kubu kedua calon ini begitu tinggi. Apalagi sebagai incumbent yang masih begitu dekat posisinya dengan tampuk kepemimpinan Subang saat ini, Eep Hidayat jelas memilik pamor yang tak bisa diremehkan.

Di luar konteks politik, ada Primus Yustiso yang sangat familiar berkat posisinya sebagai selebritis. Sektor ini memberikan kekuatan yang tak bisa dianggap enteng buat Imas yang menjadikan artis tersebut sebagai wakilnya. Merambah wilayah pendidikan, ada Kusbini yang notabene namanya sudah begitu lekat dan memiliki perjalanan panjang dalam dunia ini. Jelas menjadi pertimbangan bagi institusi terkait.

Tak ketinggalan pula Djuanda yang muncul dari jalur bernuansa agama. Sebagai pemimpin pondok pesantren modern terbesar di Subang, langkah tokoh ini bisa saja menjegal pasangan lain. Pendukungnya pun setidaknya bakal bermunculan terutama dari kalangan pesantren yang tak sedikit jumlahnya di wilayah Subang. Menyusul Diding dari kawasan Selatan tak boleh dianggap enteng karena muncul dari wilayah potensial menjaring dukungan itu.

Lebih jauh, dibandingkan pilkada di daerah lain, Subang merupakan pilkada dengan jumlah peserta terbanyak. Artinya, kompetisinya bakal sangat ketat dan perebutan suara tentu saja amat sengit. Otomatis berbagai strategi akan dilakukan peserta. Mulai dari trik menarik dukungan lewat koridor yang benar dan sesuai jalur. Tapi tak bisa dipungkiri bahwa strategi menarik dukungan sedikit menyenggol atau menyeleweng dari aturan bakal terjadi pula.

Para calon bupati ini bakal berebut dukungan dari 1,5 juta jiwa penduduk kabupaten Subang yang notabene tak semuanya memilih. Pasalnya, bisa dipastikan ada saja masyarakat yang termasuk golongan putih (golput). Sementara ini, para peserta pilkada minimal sudah mengantongi tiga persen dukungan atau sekitar 45 ribu jiwa yang menjadi syarat minimal maju sebagai calon bupati.
Satu hal yang bisa menjadi catatan, perebutan posisi kali ini seolah mewakili setiap segmen masyarakat di Subang itu sendiri. Lihat saja, tokoh yang muncul ke permukaan relatif lengkap mulai dari kalangan pendidik, artis, kiai sampai birokrat. Boleh dibilang, pilkada kali ini adalah kompetisi antar kubu dari jalur berbeda-beda.
Pada akhirnya, sebagai masyarakat, kita hanya bisa berdoa siapa pun yang terpilih nantinya bakal menjadi pemegang amanah yang benar dan lurus. Bisa menjadi wakil buat semua kubu pada umumnya dan sanggup menjadi wakil bagi masyarakat Subang khususnya. Amien.
(Hari Pitrajaya)











