Musik & Sastra



Musik indie telah menjadi mainstream. Ia tidak lagi berada pada posisi marginal, terpinggirkan dan hanya dikenal oleh beberapa orang yang memang mempunyai “taste” yang berbeda dengan orang kebanyakan.

Dahulu, seingat saya, indie music selalu dikaitkan dengan prinsip kemandirian untuk berdiri di luar “kekuasaan” major label yang kerap dituduh memasung kreativitas pemusik. Keinginan untuk berdiri di luar mainstream ini menemukan tempatnya di beberapa komunitas yang mempunyai persamaan idealisme. Prinsip DIY (Do it Yourself) memang kencang dikumandangkan.

Bagi grup yang memulai di jalur indie, biasanya mereka manggung di pensi-pensi sekolah. Lalu setelah show ada juga pembagian CD atau kaset yang direkam sendiri di studio. Melalui jalur pertemanan, mereka kian sering dikenal dan tawaran manggung pun meningkat. Mulai ada komunitas fans yang dirangsang juga dengan merchandise yang seringkali dibuat sendiri oleh anggota band.

Semua berlangsung hingga satu titik dimana band-band itu ada yang menyebrang ke “major label”. Sukses, terkenal dan didukung oleh promotional team serta toko-toko yang meng-endorse penampilan mereka. Tapi ada juga yang tetap mempertahankan kemandirian mereka untuk tetap berkecimpung di dunia indie yang seringkali sudah tidak “underground” lagi.

Saat ini, menurut saya, indie music sudah memasuki kancah mainstream. Grup band seperti Mocca, the Brandals, Burgerkill, the Upstair, Whiteshoes, Goodnight Electric, dll telah menjadi terkenal dan telah diundang ke beberapa negara di luar Indonesia untuk perform. Keren sekali, memang.

Fenomena lakunya album-album Indie group yang dibidani oleh Aksara record, FFWD label dan larisnya resensi musik mereka di beragam media telah menjadikan mereka begitu terkenal sehingga predikat the next rising star menjadi layak untuk didapat. But….

Mungkin saya nostalgis, tapi kayaknya asik juga kalau indie music belum seperti sekarang. Tapi mungkin itulah logika industri nan kapitalis: menggurita, menggulung dan menyerap gerakan-gerakan yang dahulu menentangnya menjadi sesuatu yang menjadi bagian dari kapitalisme itu sendiri. Sebuah komoditas yang layak dan bernilai untuk dijual…

Link untuk beberapa grup indie (kebanyakan di MySpace) : Europen in the tropen, Rocket Rockers, Homogenic, The Bohays, Polyster Embassy.

Goodnight Electric, White Shoes juga ada…

(tulisan diambil dari www.bisma.wordpress.com)

Lagu Shadows yang mengisi soundtrack Heroes musim ketiga memperkuat posisi Nidji sebagai grup yang diakui internasional. Klip video kini sedang disiapkan. SINGLE”Laskar Pelangi”(OST film Laskar Pelangi) masih hangat diputar di radio.Namun,lagu Shadows milik Nidji diprediksi bakal jauh lebih populer, setelah mengisi soundtrackdrama televisi Heroes.

Shadows, yang masih jadi bagian di album terbaru Nidji ”Top Up” itu memang sedang bergema sebagai soundtrack drama televisi populer Heroes yang kini menginjak musim ketiga. Heroes,arahan Tim Kring,bercerita tentang orang-orang biasa yang menyadari bahwa mereka memiliki kekuatan super. Dari situ, mereka akhirnya saling bekerja sama untuk menolong sesama.

Sejak tayang pada 2006 di NBC,demam Heroes yang di Amerika ditonton oleh 14,3 juta orang itu sampai juga ke Asia, termasuk Indonesia. Menurut Nidji, kepercayaan mengisi soundtrack musim terbaru Heroes dari Star Movie Asia didapat setelah sebelumnya mereka menyumbang lagu Heaven. Lagu itu mengikat soundtrack Heroes musim kedua.

”Memang setelah promo Heaven selesai, kita masih tetap dekat dengan mereka (Star Movie Asia). Nah, setelah mendengarkan album ”Top Up,”mereka senang sekali,dan memilih lagu itu untuk serial Heroes musim ketiga,” papar Giring yang menyebut anak-anak Nidji juga termasuk penggila Heroes. Ia juga mengungkap rasa syukurnya karena sudah dua kali lagu Nidji digunakan menjadi serial TV di skala Asia.

”Entah kenapa,lagu-lagu Nidji sepertinya kurang cocok digunakan oleh sinetron Indonesia. Ya, mungkin apa yang kita bikin lebih kena sama orang-orang luar negeri,” kata Giring lagi. Dua kali bekerja sama dengan pihak Star Movie Asia juga membuat Giring menyadari betapa pihak luar lebih menghargai Nidji sebagi sebuah band. Itu terlihat dari promosi, hingga perlakuan istimewa yang diberikan kepada Nidji ketika grup asal Jakarta ini menjalankan tur promo mereka di beberapa negara di Asia.

”Kalau saya lihat, pihak luar sudah ngerasa ada talent yang bisa diekspos. Maka, mereka juga tidak ragu-ragu untuk memberi exposure buat kita juga. Seperti Nidji saat kontrak Heaven. Setelah itu ada rentetan acara di luar negeri buat kita,” beber pria yang kerap tampil eksentrik ini.

Sedangkan perlakuan paling mengesankan yang pernah mereka terima adalah saat berpromo di Singapura dan diinapkan di Hotel berbintang lima. ”Kita enggak nyangka kalau mereka bakal memperlakukan Nidji seperti band-band dari Amerika. Wuah, semua yang mereka kasih ke kita itu sangat-sangat profesional dan pastinya bikin kita senang,” kenang Giring.

Meski demikian, Giring mengatakan bahwa Nidji tidak akan memilih- milih partner untuk bekerja sama. Nidji akan tetap membina hubungan baik dengan pihak lokal ataupun luar negeri. Saat ini, Giring sendiri sedang dalam proses meeting untuk pembuatan video klip Shadows.

”Biasanya kita agak-agak cerewet untuk urusan pembuatan klip.Tapi kali ini akan ada pengecualian. Karena mereka kan tidak hanya ingin mengekspos Nidji saja,tapi juga ada kepentingan untuk menaikkan serial Heroes ini sendiri,” tukas Giring. Ditanya tentang berapa nominal yang Nidji terima untuk satu lagu yang digunakan untuk film Heroes, Giring tak berani untuk mengucapkannya dengan lugas.

”Bagi Nidji,lagu kita bisa diekspos di luar negeri dan didengar saja sudah jadi suatu hal yang besar. Kalau ngomongin duit, enggak semua hal bisa dinilai pakai uang,”jelasnya. (*)

sumber: seputar indonesia

Rhoma Irama Akan Goyang Amerika

Rhoma Irama bersama grup Soneta-nya bertolak ke Amerika untuk tampil di Pittsburg University, Washington DC, dan Ohio. Tak hanya menyanyi, Rhoma juga bakal menjadi salah satu pembicara dalam Konfrensi Kebudayaan Islam Internasional.

“Ini sangat membanggakan. Kami akan tampil di kalangan akademisi, suatu hal yang luar biasa bagi dunia dangdut, khususnya Soneta. Ini sebuah kesempatan langka bisa membuat dangdut go international,” ucap lelaki yang biasa disapa Bang Haji ini.

Beberapa waktu lalu Rhoma telah menggelar syukuran atas undangan Pittsburg University itu di gedung Nyi Ageng Serang, Kuningan, Jakarta Selatan. Menurut Rhoma, ia  diundang karena lagu-lagunya dianggap menyuarakan nilai-nilai universal.

Rhoma mengaku sudah menyiapkan lagu-lagu yang akan menggoyang AS, diantaranya adalah Stop, yang sarat dengan pesan perdamaian dunia, Hak Asasi Manusia, Nafsu Serakah, yang bicara soal perang, dan Judi. (bug/kompas/foto:soneta.freehostia.com)

(indonesiantunes.com

Changcutters dan DMassive Tampil Bareng

Jelang lebaran, sejumlah penyanyi dan grup band dipastikan laris manggung, diantaranya dua band ternama The Changcutters dan D`Massive. Jika tidak ada aral-melintang, kedua band ini  akan mengisi Pekan Lebaran yang digelar oleh Taman Wisata Mekarsari di Cileungsi, Bogor selama dua pekan mulai 1-12 Oktober. Seperti dilansir Antara, acara  musik  ini rencananya  juga akan diramaikan oleh dua jawara Indonesian Idol yaitu Judika dan Aries.

The Changcutters akan tampil pada 4 Oktober, D`Massive pada 5 Oktober dan Judika serta Aries pada 11 Oktober, kata jurubicara Mekarsari, Sonia Octarina di Bogor, Senin.

“Idulfitri 1429 Hijriah akan dirayakan dengan meriah di Taman Wisata Mekarsari. Selama dua pekan penuh mulai 1-12 Oktober, Mekarsari buka non stop mulai jam 09.00 hingga 17.00 WIB dan hanya pada tanggal 1 Oktober saja buka mulai pukul 11.00 WIB demi menghormati umat yang sedang shalat Id,” katanya.

Pekan Lebaran tersebut akan diramaikan oleh berbagai pertunjukan seni, mulai dari pentas musik, Karnaval Kafilah, hingga tari tradisional Jawa Barat, Rampak Beduk.

Di setiap sudut zona akan ditampilkan “live music” mulai dari musik pop modern, reggae, dangdut hingga tradisional agamis seperti Gambus dan Marawis/Nasyid.

Selain musik, pengunjung juga akan dihibur dengan Karnaval Kafilah, Tarian Timur Tengah, Sulap, Badut dan pertunjukan pantomim/humanoid bertema Timur Tengah.

Selama Pekan Lebaran, kata dia, akan tampil penari-penari yang sangat mahir dalam memainkan alat musik kendang yang disebut dengan tarian Kendang Waroja. Selain Kendang Waroja, tarian tradisional Jawa Barat lainnya yang akan tampil adalah Rampak Beduk.

Mengenai harga tiket masuk, Sonia mengatakan, Taman Wisata Mekarsari justru sama sekali tidak menaikkan harga tiket masuk untuk wahana-wahana wisata maupun paket-paket tournya.

Tiket Masuk tetap Rp12.000 per orang, Kereta/Perahu, Paket Tur dan berbagai permainan air (Perahu Naga, Kano, Banana Boat, Angsa Air, Aqua Bike, Floating Donat, Giant Bubble) disediakan dengan harga berkisar antara Rp10.000 hingga Rp45.000 per orang. Bagi peminat Outbound dikenakan biaya Rp. 15.000 per orang untuk setiap paket permainan.

Berbeda dari Lebaran tahun lalu, pengunjung sekarang ini sudah bisa menikmati Danau Mekarsari seluas 27,5 hektare yang telah selesai direnovasi.

Diesebutkan, pada tahun 2009 di tepi danau tersebut juga akan dibangun sebuah Water Park seluas 7 hektare lebih, resort dan sebuah restoran besar yang menyajikan hidangan khas Sunda.

Demi memberikan pelayanan yang optimal, pihak Mekarsari akan mengerahkan ratusan tenaga pengamanan karena lokasi wisata ini diperkirakan akan dikunjungi oleh 300.000 wisatawan selama libur lebaran.

Semua karyawan mulai dari level tertinggi hingga yang terendah juga akan turun lapangan untuk langsung berinteraksi dengan pengunjung yang datang. (*)

(indonesiantunes)

Catatan buruk dunia penerbangan Indonesia semakin bertambah setelah sejumlah kru band Repvblik mengaku dikeroyok oleh karyawan maskapai penerbangan Lion Air. Para kru tersebut dikeroyok di dalam kawasan bandara Fatmawati, Bengkulu, Sabtu (30/8) lalu. Insiden tersebut terjadi tepat di bawah badan pesawat Lion Air.

Ketika itu Repvblik baru saja manggung di kawasan Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Rombongan berniat kembali ke Jakarta dengan menumpang pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 637. Menurut Chanafi Pane, manajer band Repvblik, kejadian bermula ketika terjadi salah paham saat penimbangan bagasi.

Sejumlah kru ditegur oleh karyawan Lion Air karena dianggap terlalu kasar ketika meletakkan sejumlah barang di atas timbangan. Kru yang ditegur pun merasa kalau mereka sudah tepat meletakkan barang itu.

Menurut Chanafi, salah seorang karyawan Lion Air sempat mendorong kru Repvblik yang bernama Dani karena dianggap tidak mengindahkan teguran. Dani pun meresponnya dengan sikap membela diri sehingga di antara keduanya pun terjadi adu mulut.

Dani dan karyawan tersebut dipisahkan oleh kru Repvblik yang lain. Salah seorang kru Repvblik pun yang bernama Wira sempat meminta maaf kepada karyawan Lion Air tersebut. Namun ketegangan tidak berhenti hingga di situ.

Sesaat sebelum naik ke pesawat, Dani yang berjalan di urutan terakhir rombongan sempat ditarik oleh karyawan Lion Air yang menganggap permasalahan keduanya belum usai. Keduanya pun kembali adu mulut hingga vokalis band, Ruri, turut melerai.

Namun tiba-tiba, masih menurut Chanafi, ada salah seorang karyawan Lion Air yang memukul Dani. Aksi pemukulan itu pun akhirnya diikuti oleh karyawan Lion Air lainnya.

“Pelaku kurang lebih ada sembilan hingga sepuluh orang,” jelas kuasa hukum band Repvblik, Ferry Amahorseya, ketika menggelar jumpa pers bersama para personel band dan para sejumlah kru di restoran Just Steak, Mahakam, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (1/9).

Menurut Ferry ada tiga kru yang luka-luka karena insiden tersebut. Pihak Repvblik pun sudah melayangkan somasi kepada manajamen Lion Air 1 September 2008 untuk meminta penjelasan dan pertanggungjawabannya terkait insiden tersebut.

Bukan hanya karyawan maskapai Lion Air yang dituding Repvblik melakukan tindakan tidak profesional. Pihak manajemen bandara Fatmawati Bengkulu pun dituduh membiarkan pengeroyokan tersebut.

“Security bandara bukannya melerai kejadian tersebut, tetapi malah menjaga rombongan kami sehingga mereka bebas memukuli teman-teman kami,” pungkas Chanafi. (*)

(indonesiantunes)

The Big Hip

Bagi Anda penyuka grup musik Slank, jika mendengarkan album  ini pasti merasa ada yang beda. Selain syairnya yang dibawakan dalam tiga bahasa, Indonesia-Inggris dan Jepang,  perpaduan Slank dengan grup musik asal Jepang, The Big Hip, melahirkan nuansa musik Rock and Roll yang kental.

Apa yang membuat Slank dan The Big Hip melakukan kolaborasi? Prosesnya begitu cepat. Sowan  pentolan The Big Hip, Mikio Shirai dan drumer Tetsuya Kajiwara ke Jalan Potlot, Duren-Tiga akhir 2007 memunculkan ide liar Bimbim. “Tak ada salahnya jika kita (Slank) mencoba sesuatu yang baru dan belum pernah dilakukan,” ujar Bimbim.

“Kami juga terobsesi untuk bukan cuma membuat lirik berbahasa Indonesia, karena harus menyebarkan virus perdamaian ke seluruh dunia. Tak hanya di Asia Tenggara saja,” imbuh Bimbim saat peluncuran Slank-The Big Hip beberapa waktu lalu. Maka, langsung saja, empat lagu The Big Hip; Sora, Yumede Areba II, Utaga Utaidasu, dan Yuwaku dieksplorasi oleh Bimbim, Kaka dan Abdee menjadi “lain” dan lebih keren.

“Kami tentu tak mau kehilangan karakter. Meski liriknya ada yang berbahasa Jepang selain juga Inggris. Jadi, tidak ada kendala bahasa. Kami berhasil berkomunikasi dengan baik melalui musik, dan tanpa tergradasi oleh alunan rock Jepang,” kata Kaka.

Album terbaru Slank dibawah bendera Virgo Ramayana Record ini berisi 12 lagu;  Rock ‘n Roll, Sora, Rebut, Seperti Para Koruptor, Yumede Areba, Sexy Cat, Utaga Utaidasu, Yuwaku, Seen Things, Hard For You, Arigato, Thank You dan Kilav.

Meski berkolaborasi dengan musisi Jepang, nuansa musik Rock N Roll Slank tetap ada. Bahkan, lagu-lagu berbahasa Jepang, sukses dibawakan sang vokalis Kaka. Agar memudahkan komunikasi lagu Jepang dengan para Slankers, Bimbim, Kaka dan Abdee juga  mentranslasi tembang Jepangnya The Big Hip seperti Sora (Halilintar), Yumede Areba II (Semoga Ini Mimpi), Utaga Utaidasu (Lagu Mulai Bernyanyi), dan Yuwaku (Godaan).

Seperti kebanyakan lagu-lagu Slank, aroma Rock N roll-nya ala Super group The Rolling Stones tidak bisa dihilangkan, misalnya pada “Arigato Thank You” dan “Sexy Cat”. Simak saja permainan, gitarnya Abdee dan Ridho, pukulan drum-nya Bimbim, hingga ke permainan Keyboard-nya Mikio Shirai. Beberapa materi lirik lagu dialbum ini bahkan dibuat simpel oleh penulisnya (Bimbim), hanya sepenggal saja namum pengayaan improvisasi musiknya begitu panjang dan bervariasi, simak pada “Sora” dan “Sexy Cat”.

Sikap kritis  dan percintaan ala Slank juga ada dalam syair di album ke-16 ini, dan nampaknya bisa menjadi hit, yakni “Seperti Para Koruptor”; hidup sederhana/gak punya apa-apa tapi banyak cinta/hidup mewah-mewahan/punya segalanya tapi sengsara. Adalagi syair lagu penyemangat bagi mereka yang bekerja atau bertanding; “Mana  ada perlawanan tanpa keringat/mana bisa kemenangan tanpa semangat/ mana ada keberhasilan dalam waktu singkat/jangan ada persaingan yang tak sehat/rebut… jangan didiamkan saja/rebut… kejar dan jangan diam saja.

Album yang diluncurkan bulan lalu ini juga dibundel dengan Video perjalanan Slank ke Jepang. Beberapa potongan klip Slank saat konser di Nagoya dan Tokyo, juga menunjukkan betapa Slank dielu-elukan oleh penggemarnya disana, termasuk warga Jepang.  Misalkan saat Slank membawakan “Yumede Areba”. Bimbim dan  kawan-kawan menjadikannya lebih nge-rock namun tidak menghilangkan nuansa Jepangnya.

Diluncurkannya album ini memberi nuansa baru bagi  perjalanan musik slank. Slank sepertinya tidak mau berkutat main musik dikandang sendiri, makanya memilih pinangan The Big Hip untuk berkolaborasi. Slank ingin Go Publik? bisa jadi seperti  itu. Apalagi dijaman yang serba global ini sudah saatnya musik Indonesia mampu “menjajah” bangsa  lain. Sebagai media universal, musik sangat bisa tembus ke arah sana, dan Bimbim dkk sudah melakukannya.

Apakah ini merupakah lompatan slank ditengah maraknya muncul group musik baru. Rasanya tidak. Sebagai musisi kawakan, slank sudah beda tingkatan. Apalagi band ini bisa dibilang legenda rock n’ roll Indonesia dengan angka penggemar fanatik  yang fantastis, plus dengan  pengelolaan manajemen yang baik. Dan sudah saatnya artis sekarang mencontoh grup musik ini. [lyz/itunes]

Artist / Band Slank
Judul Album The Big Hip
Label Virgo Record
Rating ratingratingratingratingrating
Track List
Rock `n Roll
Sara
Rebut
Seperti Para Koruptor Lirik
Lirik : Lirik  Audio : Audio  Video : Video Klip

sumber: www.indonesiantunes.com

Seperti tidak mau kehilangan momen, sejumlah artis merilis album religi di bulan Ramadhan, satu diantaranya penyanyi pendatang baru, AFGAN. Belum lama ini, penyanyi yang sempat kuliah di Universitas Indonesia ini merilis album “PadaMu ku Bersujud”.

Lagu Andalan yang ditulis Bebi Romeo berbincang tentang ketuhanan simak saja liriknya;Ku menatap dalam gelap, tiada yang bisa kulihat selain hanya nama-Mu, ya Allah/Esok ataukah nanti, ampuni semua salahku/lindungi aku dari segala fitnah

Awal karirnya, Afgan memang bukan penyanyi religi dan Bebi Romeo bukan spesialis mencipta lagu rohani, namun dialbum “PadaMu ku Bersujud” ini kolaborasi keduanya tampak pas. Seperti dilansir dalam rilisnya, Afgan begitu menyelami makna syairnya, berikut  penghayatannya.”Lagu ini adalah refleksi atas fitrah hidup Afgan sebagai manusia yang senantiasa tak hentinya untuk diuji segala cobaan oleh Allah SWT,” demikian tulisnya.

Seperti diketahui, setelah beberapa bulan lalu melepaskan single keduanya, Sadis, Wanna B Production berani terjun bersama band dan musisi lain yang berbondong-bondong merilis album rohani. “Lagu Padamu Kubersujud ini sengaja dipersembahkan sebagai momentum menyambut bulan suci Ramadhan 1429 H,” ujar Fajar mewakili manajemen Wanna B, label Afgan bernaung.

Dikatakan, peluncuran album religi Afgan dari sisi bisnis  merupakan  pelajaran dan memenuhi rasa ingin memberikan sentuhan lain pada musisi binaan Wanna B. Diakui,  sulit dimungkiri, bahwa kehadiran bulan Ramadhan senantiasa disambut gegap gempita oleh khalayak umat Islam seluruh dunia. Dan di Indonesia sendiri, yang notabene memiliki penduduk muslim terbesar di dunia, tentu merupakan pasar yang bagus untuk lagu-lagu rohani.

“Semoga bisa menjadi oase yang sejuk dan obat spiritual yang mujarab baik bagi pendengar dan penyanyinya,” tandas Fajar.

Pelajaran lain yang bisa diambil dalam setiap peluncuran album religi adalah bagaimana tetap mempertahankan kualitas dalam bermusik. Jangan sampai muncul anggapan, momen Ramadan merupakan kesempatan atau aji mumpung dalam mengejar setoran, namun meninggalkan kualitas.(*)

(indonesiantunes)

Hadiah Buat  para Slankers Ambon

Group band papan atas di tanah air, Slank tampil memukau di hadapan 20-an ribu pendukung fanatiknya yang membludak dalam konser bertajuk “Amboina Specta Show 2008″, di Stadion Mandala Remaja Karang Panjang, Kota Ambon, Kamis (28/8).

Konser yang digelar Harian Umum Siwalima bekerja sama dengan Polda Maluku, A Mild dan Telkomsel itu, merupakan menjadi “kado” terindah yang dipersembahkan jajaran Polda Maluku dan Kodam XVI/Pattimura, karena mampu menjaga kondisi keamanan di Maluku tetap kondusif dan aman pasca Pilkada Maluku, 9 Juli 2008 lalu, serta Pemilihan Bupati-Wakil BUpati Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) dan pemilihan Walikota-Wakil Walikota Tual, 12 Agustus lalu.

Konser itu dibuka secara bersamaan oleh Kapolda Maluku, Brigjen Pol. Mudji Waluyo dan Pangdam XVI/Pattimura, Mayjen TNI. Rasyid Qurnuen Aquary bersama-sama ibunda pentolan group Slank yang sering disapa Bunda Ifet oleh para Slankers.

Sebelum Slank hadir, artis Melanie Subonno yang menjadi “ikon” penyanyi rock wanita di Indonesia itu, juga tampil memukau para slanker yang memenuhi lapangan sepakbola terbesar di Kota Ambon itu.

Slank membuka pertemuan dengan para fansnya dengan tembang “hits I Miss You But I Hate You” menyusul “Gara- Gara Kamu” dan Generasi Biru yang dilantunkan oleh suara khas Kaka yang ngerock, membuat penonton berjingkrak dan histeris.

Usai tiga tembang pembuka, Kaka kemudian menyanyikan yakni Mars Slanker yang diciptakan khusus bagi para penggemarnya itu, yang isi syairnya mengajak generasi muda untuk hidup mandiri dan tidak cengeng. Rupa-rupanya, lagu ini sangat dihafal oleh para slanker mania di Ambon, karena semua terlihat menyanyi bersama sambil berjingkrak mengikuti gaya Kaka di atas panggung.

Selanjutnya, berturut-turut group band yang digawangi, Kaka, Bimbim, Abdee, Ivan dan Rido yang juga berasal dari Ambon itu, meluncurkan tembang-tembang hitsnya dari 18 album yang telah diciptakan yakni “Loe Harus Grak”, “Virus, Bang2 Tut, Tong Kosong, Maafkan, Terlalu Manis dan Sambar Gledek.

Di tengah-tengah lagu yang dinyanyikan, personil band yang telah berkarya selama 25 tahun ini, terus menyampaikan pesan-pesan moral mereka untuk memberantas narkoba. “Tinggalkan narkoba sebelum terlambat, karena tidak ada gunanya,” ujar Kaka seraya mengajak slankers mania, termasuk ribuan personil Polisi dan TNI yang hadir itu untuk meneriakkan “katakan tidak untuk narkoba”.

Di tengah-tengah konser yang berlangsung selama dua jam itu, Kaka Slank juga mengajak pendukung fanatiknya termasuk ribuan personel TNI/Polri yang hadir untuk menyanyikan sebuah lagu bertema kemerdekaan yakni “Hari Merdeka” guna menggugah semangat dan rasa nasionalisme. “Kebetulan sekarang masih bulan Agustus, dari kita baru selesai merayakan kemerdekaan, maka tidak salahnya kita semua menyanyikan lagu ini secara bersama,” ajak Kaka.

Para mantan pecandu narkoba ini, kemudian meluncurkan tembang yang paling banyak direquest oleh slanker mania di Ambon dalam konser itu yakni “Seperti Para Koruptor”, yang sengaja diciptakan untuk mengingatkan para koruptor yang memakan uang rakyat di negara ini.

Guna melampiaskan 10 tahun kerinduannya untuk manggung kembali di Kota Ambon, Kaka Slank kemudian meminta salah seorang satu “nona Ambon hitam manis” untuk naik pangung dan berduet bersama menyanyikan hits mereka “Pandangan Pertama” yang sudah dipopulerkan Slank bersama Nirina Zubir.

Maryoni Saherlawan, si nona Ambon hitam manis yang sempat ikut audisi Indonesian Idol IV dan V di Jakarta ini, dan diajak naik panggung itu, tidak menyia-nyiakan kesempatan langka untuk berduet, bergoyang dan dan berpelukan bersama Kaka.

Mahasiswi Universitas Pattimura ini sukses menggoyang panggung dengan gayanya yang centil membuat personil Slank dan penonton terhibur benar-benar terhibur dan bergoyang serta maupun bernyanyi. Gaya Maryoni malah tidak kalah dengan Nirina Zubir yang sempat berduat dengan Kaka dan turut mempopulerkan lagu itu.

Kaka kemudian memuaskan para penggemar mereka dengan menyanyikan lagu “Orkes Sakit Hati”, “SBY” serta Ku Tak Bisa, dan menutup konser itu dengan dua hits terakhir yakni Kuil Cinta dan Kamu Harus Pulang.

Bahkan di tengah-tengah lagu “kamu harus pulang” Kaka masih sempat mengingatkan slankers mania dan masyarakat Kota Ambon untuk memelihara kondisi yang semakin kondusif, jauhi konflik serta tidak menggunakan narkoba.

“Kami ingin Ambon tetap aman, sehingga dapat menjawab rindu kami untuk kembali ke Ambon yang indah karena keindahan pantai serta masakannya,” ujar Kaka menutup konser yang berlangsung aman tanpa diwarnai kerusuhan seperti yang terjadi di daerah lain itu. (*)

(indonesiantunes)

Musik adalah Jalan Hidup

Musisi bikin usaha memang sedang marak. Dalam industri musik Indonesia, kita mengenal Ahmad Dhani (Dewa 19), Piyu (Padi),Yovie (Yovie & Nuno), juga Pasha (Ungu). Ternyata memanfaatka  peluang dalam dunia musik juga dilakukan oleh pasangan penyanyi yang juga musisi, Melly Goeslaw dan Anto Hoed. Ya, mereka membangun perusahaan label, “100 Persen Production”. Produk pertamanya adalah lagu berjudul Tuhan Beri Aku Cinta yang dinyanyikan Ayu Sita Widyastuti Nugraha. Lagu tersebut akan menjadi soundtrack film layar lebar Ketika Cinta Bertasbih (KCB).

Selain lagu tersebut, kata Melly, masih ada tiga lagu lainnya. Seluruhnya akan menjadi soundtrack KCB dan menjadi proyek pertama perusahaan barunya itu. “Awalnya, saya hanya ingin membuatkan hit single untuk Ayu. Tapi alhamdulillah, film KCB tertarik. Ya sudah, sekalian dibuatkan klipnya yang religius,” ujarnya di Jakarta.

Dijelaskan Melly, perusahaan label yang dibuatnya memang belum diperkenalkan secara resmi ke publik, namun sudah ada beberapa musisi  yag bergabung di dalamnya, termasuk Ayu Sita. Selebihnya, Melly dan Anto masih “berburu” talenta berbakat lainnya, baik penyanyi solo maupun grup band. “Melly Goeslaw dan Potret (bandnya sendiri, Red) tidak termasuk, sudah di Aquarius,” jelas Melly.

Ditambahkan Melly, selain untuk pengembangan bisnis, perusahaan  ini juga sebagai sarana investasi. ” Nyanyi tetap nyanyi, komposer tetap komposer, tapi ini untuk bekal masa depan,” ujarnya tersenyum.

Ketiadaan keterampilan lain, selain membuat lagu dan bernyanyi menjadi alasan keduanya serius menggeluti dunia hiburan (musik), “Saya dan  Anto, jujur, hanya bisa bekerja di bidang musik. Ini pekerjaan yang kami cintai,” imbuhnya.

Beberapa lagu yang dibuat kedua musisi ini, kadang dibawakan sendiri, banyak pula yang dibawakan penyanyi lain, termasuk penyanyi pendatang baru.  “Kami sebagai musisi, selain tampil, harus bisa bekerja di belakang layar,” ucap perempuan yang gemar dandan nyentrik itu.

Sebagai hasil kaya 100 persen production, Melly dan Anto, memmperkenalkan Ayu Sita. Sebelumnya, Ayu Sita memang bergabung bersama Bukan Bintang Biasa (BBB), sebuah film remaja yang soundtrack-nya juga dinyanyikan para pemain film tersebut. Film itu diproduseri Melly. Seluruh soundtrack-nya juga diciptakan Melly. (*)

(indonesiantunes.com)

Musik Religi Marak Karena Unsur Bisnis

Seperti kebiasaan tahunan, jelang bulan suci ramadan, pentas musik Indonesia akan dipadati dengan alunan tembang religi. Hampir semua artis, penyanyi dan kelompok musik berbondong-bondong meluncurkan album religi. Apakah ini berangkat dari idealisme atau hanya unsur bisnis belaka?

“Penyanyi lagu religius, muncul secara dadakan atau momentum saja, terutama setiap menjelang Ramadan karena faktor komoditas bisnis semata, bukan karena perubahan hidup ke arah lebih baik (Islami),” ujar pelantun tembang Tombo Ati, Opick.

Dalam pandangan penyanyi bernama Aunur Rofiq Lil Firdaus ini, unsur bisnis lebih terlihat dominan. Apalagi Indonesia yang mayoritas muslim merupakan pangsa besar untuk musik. Opick juga menyinggung, aksi membuat album religi seharusnya dilakukan secara kontinyu, tidak hanya Ramadan saja.

“Untuk mewujudkan musik Islami yang mampu menerjemahkan kehidupan Islami, tidak hanya dibutuhkan syair dan lagunya saja yang Islami, melainkan juga ada aspek lainya yang lebih dalam yakni spiritualitas dalam perilaku sehari-hari,” ujar Opick.

“Untuk perubahan, kita butuh musik Islami, film Islami, pengusaha Islami, dan kegiatan-kegiatan Islami,” kata Opick.

(indonesiantunes)

Halaman Berikutnya »