Korban penganiayaan suami, Purwakarta, Jabar.

Seorang wanita warga Subang, Jawa Barat belum lama berselang terpaksa dirawat di rumah sakit karena seluruh tubuhnya melepuh akibat dibakar suaminya. Kekerasan terjadi setelah sang istri menuntut cerai karena penghasilan suaminya sebagai nelayan semakin berkurang. Terutama sejak naiknya harga bahan bakar minyak sehingga jarang melaut.

Tidak terima digugat istrinya, sang suami langsung menganiaya korban. Usai menyiksa istrinya, sang suami langsung melarikan diri.

Sementara itu, penganiayaan yang dialami istri warga negara asing masih sering terjadi. Kekerasan dalam rumah tangga ini masih berlangsung diduga karena hukum kurang memberi efek jera. Kejadian tersebut sering dianggap kasus kriminal biasa.

Seperti yang dialami Inggrid. Dia tal pernah mengira suami yang dicintainya ternyata monster bagi kehidupannya. Awalnya semua manis tapi begitu pernikahan berjalan penganiayaan demi penganiayaan terjadi. Enam tahun Inggrid coba bertahan hingga akhirnya kesabaran itu hilang.

Inggrid kemudian meminta cerai dan melaporkan kejadiannya ke polisi. Tapi, sampai sekarang tak ada tanggapan. Harapan Inggrid kini tertumpu ke Kementerian Pemberdayaan Perempuan.

Kasus penganiayaan dalam rumah tangga pada kenyataannya tidak terkait dengan kewarganegaraan atau tingkat pendidikan dan ekonomi. Masalah utamanya adalah perkembangan psikologis pelaku. (*)

(liputan6.com)